Bajaj Berbahan Bakar Gas Belum Tentu Ramah Lingkungan
Oleh greenlover
Minggu, Maret 06, 2011 10:09:12 Send to a friend Print Version

Program konversi bahan bakar bajaj yang sebelumnya berbasis minyak bumi menjadi gas, tidak mengurangi emisi yang ditimbulkan selama masih menggunakan mesin dua tak.

Auto rick-shaw atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan "bajaj" --nama yang mengacu pada pabrikan pembuatnya--, sudah menjadi bagian sehari-hari khususnya warga Jakarta. Di negara Asia dan Afrika, becak bermesin ini juga banyak digunakan.

Begitu dibutuhkannya oleh sebagian warga negaranya, beberapa pemerintah, seperti India, mengganti bahan bakar yang biasanya berbasis minyak bumi menjadi bahan bakar gas (compressed natural gas), dengan harapan transportasi massa tersebut berubah menjadi transportasi ramah lingkungan yang tidak melepaskan banyak gas rumah kaca ke atmosfir.

Benarkah demikian? Dalam sebuah studi yang dilakukan University of British Columbia dan telah dipublikasikan di jurnal Environmental Science and Technology terhadap transportasi jenis itu, didapatkan temuan bahwa bahan bakar gas yang digunakan oleh bajaj tidak memberikan pengaruh apapun terhadap penurunan emisinya. Malahan yang terjadi adalah sebaliknya, terjadi peningkatan emisi.

Menurut para peneliti yang melakukan studinya terhadap ''bajaj'' India, yang mana negara tersebut juga menerapkan kebijakan untuk mengkonversi bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas, sebagian besar becak bermesin tersebut masih tetap menggunakan mesin standarnya yang bertipe dua tak.

Mode transportasi bermesin dua tak itu diuji di laboratorium dan menunjukkan emisi partikel per kilogram yang sama dengan emisi sebuah bis berbahan bakar diesel. Emisi partikel tersebut biasanya ditandai dengan asap berwarna kebiruan.

Conor Reynolds, yang menjadi penulis utama studi tersebut mengatakan, sepertiga dari bahan bakar gas tidak sepenuhnya terbakar sempurna di dalam mesin dua tak. Kondisi ini justru melepaskan metan lebih banyak. Agar pembakaran sempurna, peneliti tersebut menyarankan mengganti mesin dua tak menjadi empat tak.

Studi tersebut juga menyarankan agar pemerintah di negara-negara pengguna mode transportasi tersebut seperti India, Thailand, Pakistan, Bangladesh, FIlipina dan Indonesia mempertimbangkan setiap program konversi bahan bakar yang akan diterapkan.
university of british columbia
Save big at CompostBins.com



Artikel Lainnya


Terpopuler Minggu Ini


    Save big at CompostBins.com

    Artikel Informatif Lainnya

    • Fuel cell teknologi baru memenangkan New England Innovation Award
      Selasa, Juni 05, 2007 09:30:42
      Acumentrics, industri yang mempunyai spesialisasi dalam pembuatan SOFC (Solid Oxide Fuel Cell System) memenangkan penghargaan New England Innovation Award 2007. 
    • Produk Biodegradable Tidak Selamanya Ramah Lingkungan
      Rabu, Juni 01, 2011 13:54:21
      Sebuah studi yang dilakukan oleh North Carolina State University dan dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology menunjukkan bahwa produk-produk yang bisa terdaur ulang secara alami tidak selamanya ramah lingkungan. 
    • Clean Biofuel Berinvestasi di Gorontalo
      Kamis, Maret 15, 2007 09:45:24
      GORONTALO - Clean Biofuel Pte. Ltd., perusahaan asal Si?ngapura, akan membangun pabrik bio fuel dengan investa?si US$ 190 juta (sekitar Rp 1,7 triliun) di Pohuwato, Go?rontalo.
    • Komnas HAM: Lapindo Tetap Harus Bertanggung Jawab
      Sabtu, Maret 03, 2007 09:06:26
      SURABAYA - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Abdul Hakim Garuda Nusantara mengatakan, Lapindo Brantas Inc tetap harus bertanggung jawab atas tercerabutnya hak-hak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan warga di sekitar Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
    • Vestas to Supply Turkey with V90-3.0 MW Turbines
      Senin, Maret 19, 2007 11:12:20
      Randers, Denmark - Vestas has received a 90-megawatt (MW) order for 30 units of the V90-3.0 MW turbine for the Samli wind power plant in Turkey, scheduled to have an annual estimated power production of 256 gigawatt-hours (GWh).